Lompat ke isi utama

Dari Kopi Liar ke Komoditas Ekspor: Petani Sengare Belajar Membaca Iklim

Pada awal 1990-an, di Desa Sengare, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, kopi tumbuh liar tanpa perawatan. Orang-orang menyebutnya kopi Menado, hasil hutan yang dipetik seadanya, bukan komoditas yang dengan sengaja dibudidaya. Baru di tahun 1999, warga mulai memotong dan menyambung dengan kopi bibit unggul, dan untuk beberapa saat kopi ini tumbuh pesat. Lalu harga jatuh, dan berpengaruh terhadap banyaknya petani yang enggan bercocok tanam, sehingga kopi di Desa Sengare punah.

Kini, ketika harga kopi kembali merangkak naik, semangat menanam kopi bangkit kembali. Namun, yang menjadi permasalahan adalah sebagian besar petani yang kembali turun ke kebun tidak pernah benar-benar diajari cara menanam kopi yang baik, mulai dari bagaimana memupuk, merawat, memangkas, mengolah, apalagi membaca tanda-tanda cuaca dan iklim yang menentukan hidup atau matinya satu musim panen kopi.

Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengisi celah pengetahuan tersebut yaitu dengan penyelenggaraan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi pada 11 Juni 2026 lalu, yang mempertemukan para petani dengan ahli klimatologi, penyuluh pertanian, dan pelaku usaha di bawah program Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) yang dijalankan oleh Mercy Corps Indonesia.

Kopi Sebagai Pilihan Rasional, Bukan Sekadar Warisan

Dalam sambutannya saat membuka acara, Karnadi, Kepala Desa Sengare, mengingatkan warganya bahwa kopi bukan sekadar tanaman turun-temurun melainkan komoditas dengan nilai jual tinggi dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti jagung, padi, maupun sengon. Ia berharap SLI Kopi menjadi jalan bagi petani untuk menaikkan kualitas hasil panen mereka, sampai suatu hari nanti Sengare punya pasar pagi sendiri, tempat kopi lokal dijual langsung tanpa harus mencari pembeli ke luar desa.

Harapan itu disampaikan oleh Eni Roufah, Kepala Bidang UMKM dari Dinas Koperasi, UMKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan, yang berharap bahwa para peserta kegiatan bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan SLI, dan harapannya kopi yang diproduksi di Desa Sengare dan Jolotigo bisa memenuhi standar kualitas ekspor.

Menurutnya, pada SLI sesi keempat nanti, para peserta akan bertemu dengan para eksportir, karena masih dibutuhkan 50 ribu sachet kopi setiap bulannya, baik untuk memenuhi kebutuhan ekspor maupun dalam negeri. Di dalam negeri berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ritel toko Basmallah yang banyak tersebar di Jawa Timur. Dengan syarat yang harus dipenuhi baik untuk kebutuhan ekspor dan dalam negeri, karenanya kualitas kopi perlu konsisten.

Dari sisi pemerintah kecamatan, Anjar Ardiansyah, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Talun mengingatkan bahwa kopi merupakan tanaman tahunan, maka penting untuk mempunyai pengetahuan tentang cuaca dan iklim, sehingga kualitas kopi bisa terjaga, dan petani bisa memberikan perlakuan yang tepat. Selain itu, juga penting mengembangkan merk produk kopi Sengare dan Jolotigo, agar nantinya produk mudah dikenal dan dipasarkan.

Koordinator RL Program ZCRA-Mercy Corps Indonesia, Maun Kusnandar, menjelaskan bahwa kehadiran program ZCRA di Sengare adalah bagian dari misi membangun kembali mata pencaharian masyarakat yang terdampak perubahan iklim, dengan menggunakan skema closed-loop, mendampingi komunitas petani, mulai dari wilayah produksi, proses pengolahan, hingga pemasaran.

Dengan skema closed-loop ini, SLI mulai mengidentifikasi permasalahan di hulu sampai hilir, sehingga ditemukan beberapa permasalahan seperti disparitas harga, pengetahuan pengelolaan kebun. Karenanya, pelaksanaan SLI ini akan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, yaitu dengan menggandeng BMKG, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Dinas Koperasi UMKM, hingga sektor swasta, dalam rangkaian kelas SLI Kopi yang berjenjang: mulai dari kelas literasi iklim, mitigasi kebun, hingga resiliensi ekonomi bersama eksportir, perbankan, dan asuransi.

SLI sesi pertama pada 11/6 itu langsung menantang cara pandang lama para petani. Zauyik Nana Ruslana, narasumber dari BMKG Klimatologi Semarang memaparkan perbedaan dua hal yang sering tertukar yaitu antara cuaca dan iklim. Cuaca yang sering kali berubah dari jam ke jam seperti suasana hati, dan iklim, karakter jangka panjang suatu wilayah yang terbentuk selama puluhan tahun. Perbedaan ini menentukan bagaimana cara petani merespon.

Menurutnya, saat El Niño (fase kering) membuat musim kering berkepanjangan, kebun perlu naungan yang dijaga, bukan dipangkas; saat La Niña (fase basah) mendatangkan hujan berlebih, saluran air dan kewaspadaan terhadap penyakit tanaman menjadi prioritas.

Narasumber kedua Bapak Rudi, menyampaikan tentang bagaimana memahami informasi iklim dan musim. Petani diajak memahami istilah yang selama ini hanya dimengerti oleh kalangan tertentu, misalnya memahami curah hujan kumulatif, dasarian, sifat hujan atas normal atau bawah normal dan menerjemahkannya menjadi keputusan praktis di kebun.

Dengan memahami curah hujan dan suhu udara, petani menjadi tahu komoditas kopi apa yang paling cocok untuk ditanam. Tanaman kopi membutuhkan curah hujan yang cukup tinggi, sekitar 1.500–2.500 mm per tahun, dengan bulan kering sekitar 1–3 bulan untuk merangsang pembungaan. Petani bisa menentukan, kopi Arabika atau Robusta yang akan ditanam. Kopi Arabika menyukai suhu sejuk antara 15°C–24°C. Jika terlalu panas, tanaman rentan terserang penyakit karat daun. Sedangkan, jenis kopi Robusta lebih tahan panas. Robusta bisa bahkan menyukai suhu antara 21°C–28°C.

Di sesi ketiga yang masih dipandu oleh Pak Rudi, peserta bahkan mempraktikkan langsung memasang aplikasi Info BMKG dari Play Store, belajar membaca prediksi iklim wilayah Pekalongan dari layar ponsel mereka sendiri, sebuah keterampilan sederhana yang berpotensi menyelamatkan satu musim panen. Dengan keterampilan teknis ini, para petani jadi paham kapan memanen sebelum hujan deras datang, kapan menunda pemupukan agar tidak hanyut sia-sia, kapan membuat rorak untuk mengunci air hujan alih-alih membiarkannya terbuang.

Pertanyaan yang muncul dari peserta pun menunjukkan betapa praktisnya kebutuhan mereka: bagaimana cara membuat rorak yang benar di sekitar tajuk kopi, dan bagaimana cara mengajukan Surat Keterangan Cuaca ke BMKG Klimatologi Semarang untuk keperluan klaim asuransi kopi, sebuah jaring pengaman yang masih asing bagi para peserta.

Satu dari Sekian Rangkaian Sekolah Lapang Iklim

Selepas 3 sesi materi tersebut, SLI Kopi di Desa Sengare ditutup dengan post-test untuk mengecek peningkatan pengetahuan peserta, dan sesi foto bersama. Sesi ini bukanlah penutup, melainkan awal dari rangkaian kelas berikutnya, yaitu: pembukaan resmi SLI, kelas literasi iklim, kelas mitigasi kebun, hingga kelas resiliensi ekonomi yang akan mempertemukan petani langsung dengan eksportir dan lembaga keuangan.

Bagi petani di Desa Sengare, ini bukan lagi soal menyambung batang kopi liar dan menunggu. Melainkan soal membangun kembali sebuah komoditas yang sudah lama ada, dengan bekal ilmu dan akses terhadap pasar yang lebih mudah.